Powered By Blogger

Jumat, 21 Juni 2013

KABUPATEN JENEPONTO





Kabupaten Jeneponto adalah salah satu daerah tingkat II di provinsi sulawesi selatan, indonesia.ibu kabupaten ini terletak di bontosunggu. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 749,79 km2 dan berpenduduk sebanyak 330.735 jiwa, kondisi tanah (topografi) pada bagian utara terdiri dari dataran tinggi dengan ketinggian 500 s/d 1400 m, bagian tengah 100 s/d 500 m dan pada bagian selatan 0 s/d 150 m di atas permukaan laut.
 Kabupaten Jeneponto terletek di ujung bagian barat dari wilayah Propinsi Sulawesi selatan dan merupakan daerah pesisir pantai yang terbentang sepanjang ± 95 di bagian selatan. Secara geografis terletek diantara 50 16’ 13” – 50 39’ 35” Lintang Selatan dan 120 40’ 19” – 120 7’ 51” Bujur Timur. Kabupaten Jeneponto berbatasan dengan : Ditinjau dari batas-batasnya maka pada sebelah Utara berbatasan dengan Gowa, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng.

Kabupaten Jeneponto memiliki wilayah seluas 74.979 ha atau 749,79 km2. Luas Wilayah Kabupaten Jeneponto tersebut bila dilihat dari jenis penggunaan tanahnya, maka penggunaan tanah yang terluas pertama tahun 1999 adalah Tegalan/Kebun seluas 35.488 ha atau 47,33%, terluas kedua adalah Sawah Panen Satu Kali seluas 12.418 ha atau 16,56%, terluas ketiga adalah Hutan Negara seluas 9.950 ha atau 13,27%, sedangkan penggunaan tanah untuk Pekarangan seluas 1.320 ha atau 1,76% dan yang terendah adalah Ladang / Huma seluas 31 ha atau 0,04%. Topografi

Kondisi topografi tanah wilayah Kabupaten Jeneponto pada umumnya memiliki permukaan yang sifatnya bervariasi, ini dapat dilihat bahwa pada bagian Utara terdiri dari dataran tinggi dan bukit-bukit yang membentang dari Barat ke Timur dengan ketinggian 500 sampai dengan 1.400 meter diatas permukaan laut. Daerah ini cocok bila dijadikan sebagai areal pengembangan tanaman hortikultura dan sayur-sayuran. Dibagian tengah Kabupaten Jeneponto meliputi wilayah-wilayah dataran dengan ketinggian 100 sampai dengan 500 meter diatas permukaan laut, dan bagian selatan meliputi wilayah-wilayah dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai dengan 100 meter di atasa permukan laut.

Daerah ini nilai ekonominya cukup potensial untuk pengembangan tanaman perkebunan dan pertanian tanaman pangan. Pada bagian Selatan meliputi wilayah-wilayah dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai dengan 150 meter di atas permukaan laut. Daerah ini memiliki nilai ekonomi yang cukup baik bila dijadikan sebagai arel pengembangan industri penggaraman dan daerah ini telah tumbuh usaha penggaraman rakyat.


tanah dan geologi

Dari jenis tanah maka di Kabupaten Jeneponto terdapat 6 (enam) golongan jenis tanah yaitu :

a. Jenis Tanah Alluvial

Jenis tanah semacam ini terdapat di Kecamatan Bangkala, dan Alluvial Coklat Kelabu terdapat di Kecamatan Binamu dan Tamalate

b. Jenis Tanah Gromosal

Jenis tanah gromosal kelabu terdapat di Kecamatan Bangkala, dan Gromosal Kelabu Tua terdapat di Kecamatn Binamu, Tamalate dan Batang. Gromosal Hitam terdapat di Kecamatan Tamalate, Binamu dan Batang.

c. Jenis Tanah Mediteren

Jenis tanah mediteren coklat terdapat di kecamatan Bangkala, Batang dan Kelara. Sedangkan Mediteren Coklat Kemerah-merahan terdapat di Kecamatan Bangkala, Tamalate, Binamu dan Kelara.

d. Jenis Tanah Lotosal

Jenis tanah Lotosal Coklat Kekuning-kuningan terdapat di Kecamatan Bangkala, Tamalate dan Kelara. Sedangkan Lotosal Kemerah-merahan terdapat di Kecamatan Kelara.

e. Jenis Tanah Andosil

Jenis tanah Andosil Kelabu terdapat di Kecamatan Kelara.

f. Jenis Tanah Regional

Jenis tanah Regonal Coklat terdapat dilima kecamatan dalam wilayah Kabupaten Jeneponto.

Dengan adanya 6 (enam) jenis tanah di Kabupaten Jeneponto, maka pola penggunaan tanah di Kabupaten Jeneponto lebih bervariatif disbanding dengan pola dari daerah lain. Pada umumnya penggunaan tanah di Kabupaten Jeneponto disesuaikan pemanfaatannya, lahan yang ada terbagi untuk perkampungan, pesawahan, tegalan, perkebunan, kebun campuran, tambak/empang serta areal hutan, alang-alang dan lain-lain.


iklim
 


Musim

Dari jenis tanah maka di Kabupaten Jeneponto terdapat 6 (enam) golongan jenis tanah yaitu:Keadaan musim di Kabupaten Jeneponto pada umumnya sama dengan keadaan musim di daerah Kabupaten lain dalam Propinsi Sulawesi Selatan. Yang dikenal dengan 2 (dua) musim yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim Hujan terjadi antara Bulan nopember sampai dengan Bulan April sedangkan musim kemarau terjadi antara Bulan Mei sampai dengan Bulan Oktober.

Curah hujan

Curah hujan di wilayah Kabupaten Jeneponto pada umumnya tidak merata, hal ini menimbulkan adanya wilayah daerah basah dan wilayah semi kering. Curah hujan di Kabupaten Jeneponto yang tertinggi tahun 1999 jatuh pada Bulan Januari sedangkan curah hujan terendah atau terkering terjadi pada Bulan Juni, Agustus, September dan Oktober.

Iklim

Ditinjau dari klasifikasi iklim maka Kabupaten Jeneponto memiliki beberapa type iklim, type iklim tersebut adalah :

1. Type iklim D3 dan Z4 yaitu wilayah memiliki bulan kering secara berurutan berkisar
5 – 6 bulan sedangkan bulan basah 1 – 3 bulan.

2. Type iklim C2 yaitu wilayah memiliki bulan basah 5 – 6 bulan dan bulan lembab 2 – 4
bulan.Type ini dijumpai pada daerah ketinggian 700 – 1.727 m diatas permukaan laut
yakni pada wilayah kecamatan Kelara.



Industri


Bidang Usaha Industri di Kabupaten Jeneponto tampak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut diikuti pula dengan meningkatnya tenaga kerja, nilai investasi dan nilai produksi. Peningkatan tersebut tidak lepas dari adanya perhatian yang serius dari Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto dengan memberikan pembinaan dan bimbingan melalui pelatihan keterampilan bahkan memberikan paket bantuan penguatan modal kerja dengan sistem bergulir atau repolving.

Dengan melihat perhatian pemerintah daerah yang begitu besar terhadap pembangunan industri, maka di daerah ini telah tumbuh dan berkembang berbagai jenis industri kecil yang menyerap banyak tenaga kerja. Perkembangan perusahaan industri kecil dalam kurun waktu 1996-1999 meningkat rata-rata 2,52 % pertahun yaitu dari 2.273 perusahaan tahun 1996 menjadi 2.5353 perusahaan tahun 1999. Untuk penyerapan tenaga meningkat rata-rata sebesar 2,65% per tahun yaitu 5.539 orang tahun 1996 menjadi 5.855 orang tahun 1999. sedangkan jumlah investasi rata-rata naik sebesar 4,00 % per tahun yaitu dari Rp. 1.917.418 tahun 1996 menjadi Rp. 2.100.061 pada tahun 1999.

Jenis usaha industri kecil yaitu Industri makanan, minuman dan tembakau yaitu sebanyak 1.275 perusahaan atau sekitar 54,19 % dari jumlah perusahaan industri kecil tahun 1999, industri tekstil, pakaian jadi dan kulit sebanyak 453 perusahaan atau sekitar 19,25 %, industri kayu, bambu, rotan, rumput dan jenisnya sebanyak 441 perusahaan atau sekitar 18,74% sedangkan yang terkecil adalah industri yang berkode 34 yaitu industri kertas dan barang dari kertas percetakan dan penerbitas yaitu sebanyak 8 perusahaan atau 0,34%.


Industri Garam Rakyat




 Kabupaten Jeneponto adalah merupakan daerah penghasil garam terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Luas areal saat ini adalah 565,63 Ha dengan jumlah produksi rata-rata pertahun adalah sekitar 46.000 ton.
Dalam rangka mengsukseskan program Pemerintah dalam Upaya Pengulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), maka Pemerintah Kabupaten Jeneponto telah melakukan upaya seperti penegakan hukum melalui Peraturan Daerah dan Surat Keputusan Bupati Jeneponto mengenai Larangan peredaran Garam Non Yodium.

Industri Gula Merah 



Kabupaten Jeneponto yang memiliki potensi pohon lontar (siwalan) yang begitu besar jumlahnya yang tersebar pada semua kecamatan sangat memungkinkan untuk pengembangan sentra industri gula merah. Saat ini pengelolaan gula merah rakyat masih dikelolah secara tradisional sehingga diperlukan adanya terknologi yang lebih modern untuk pengolahan gula merah yang diharapkan dapat menghasilkan produk gula merah dengan kualitas yang bersaing.


Transportasi

Pada dasarnya jaringan jalan yang ada di Kabupaten Jeneponto, dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Jalan Arteri Primer

Yaitu penghubung antara Kabupaten Jeneponto dengan daerah-daerah yang ada di daerah Sulawesi Selatan.

b. Jalan Kolektor

Yaitu penghubung antara pusat-pusat kegiatan yang ada di dalam kota.





c. Jalan Lokal

Yaitu penghubung antara pusat-pusat kegiatan yang ada di kota dengan lokasi pemukiman.

q Angkutan Kota dan Terminal

Angkutan kota sebagai sarana transportasi penduduk dilayani oleh armada Mini Bis (bahasa lokal: Pete-pete), dengan route sesuai dengan jalan kolektor yang ada.

q Panjang Jalan

Secara umum seluruh wilayah Kabupaten Jeneponto telah dapat dijangkau dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Hal ini dimungkinkan oleh karena selain melakukan peningkatan dan pemeliharaan jalan, pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto juga setiap tahunnya membuka atau merintis jalan baru, sehingga tidak ada lagi desa yang tidak dapat terjangkau dengan kendaraan bermotor. Adapun panjang jalan yang ada di kabupaten Jeneponto adalah :

- Jalan Kelas II = 102,82 Km.

- Jalan Kelas III.b = 610,64 Km.

- Jalan Kelas III.c = 489,36 Km.

- Kelas yang tidak dirinci = 38,38 Km.

q Angkutan Darat

Jenis kendaraan bermotor yang beroperasi di Kabupaten Jeneponto terdiri dari Truk, Bus, Mikro Mini (Mikrolet) Pick-Up dan Tangki. Namun yang menjadi sarana transportasi masyarakat di dalam kota adalah kendaraan umum jenis Mikro Mini (Mikrolet). Banyaknya kendaraan yang ada saat ini tercatat sebagai berikut :

- Bus = 60 buah

- Truk = 128 buah

- Mikro Mini (Microlet) = 479 buah

- Pick-Up = 32 buah

- Bus = 60 buah

- Tangki = 9 buah

q Hubungan Letak Pasar dengan Sistem Transportasi

Tata letak pasar yang ada umumnya pada jalur jalan dengan frekuensi lalu lintas yang sedang-sedang saja dan mudah untuk dijangkau oleh masyarakat, sehingga aktifitas yang berlangsung pada pasar-pasar tersebut lancar karena tidak menggangu arus lalulintas disekitarnya.


Telekomunikasi






 

Adalah satu sarana yang mempercepat hubungan berkomunikasi baik antara sesama bangsa ataupun antara sesama manusia adalah tersedianya sarana telepon. Di Kabupaten Jeneponto kapasitas sentral telepon yang tersedia tahun 1999 sebanyak 2188 buah. Dari jumlah tersebut telah terisi sebanyak 1365 buah dan yang belum terisi atau masih kosong sebanyak 823 buah.

Kegunaan dan peran sarana telepon sebagai alat komunikasi semakin hari semakin dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Jeneponto sebagai salah satu kebutuhan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah pelanggan telepone yang pasang baru dimana dalam kurun waktu 1995-1999 meningkat rata-rata sebesar 78,58 persen pertahun.


Air Bersih




 


1. Air Bersih

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang dapat meningkatkan derajat kesehatan masyaraakat. Oleh karena itu sumber air yang ada perlu dijaga dan diamankan kelestariannya.

Pembangunan air bersih di Kabupaten Jeneponto dilaksanakan dengan jalan peningkatan dan perluasan sarana dan prasarana (perluasan jaringan-jaringan distribusi, sambungan rumah, hidran umum dan terminal air).

Pada tahun 1996 jumlah pelanggan air minum di Kabupaten Jeneponto tercatat sebanyak 2.763 pelanggan. Jumlah tersebut tahun 1997 meningkat menjadi 3.157 pelanggan atau naik sebesar 3.157 pelanggan atau naik sebesar 14,26 %. Pada tahun 1998 jumlah pelanggan ini meningkat lagi menjadi 3.272 pelanggan atau 3,64 % dibandingkan pada tahun 1997. Dan pada tahun 1999 jumlah pelanggan sebanyak 3.368 pelanggan naik sekitar 2,93% dibandingkan jumlah pelanggan pada tahun 1998.

Menurut kategori pelanggan, maka dari jumlah pelanggan pada tahun 1999 sebanyak 3.368 yang terbanyak adalah rumah tangga yaitu 3.181 pelanggan atau 94,45%. Terbanyak kedua adalah instansi / kantor pemerintah sebanyak 82 pelanggan atau sebesar 2,43 5, sedangkan sarana umum sebayak 61 pelanggan atau sebesar 1,81 % merupakan pelanggan yang terbanyak ketiga dan pelanggan yang terkecil lainnya yaitu hanya 4 pelanggan atau sekitar 0,12 % dari total pelanggan.


Energi Tenaga Listrik




 

Pembangunan kelistrikan di Kabupaten Jeneponto terus ditingkatkan dengan jalan memperluas dengan menambah jaringan listrik. Program ini dimaksudkan untuk pemerataan ketersediaan energi listrik dalam meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Jeneponto.

Dalam tahun 1999 telah direncanakan penambahan dan perluasan jaringan listrik untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di wilayah pedesaan sehingga diharapkan pada akhirnya seluruh desa di Kabupaten Jeneponto telah mendapatkan aliran listrik.

Hasil pembangunan kelistrikan di Kabupaten Jeneponto pada tahun 1999 telah menghasilkan pembangunan tujuh lokasi jaringan listrik (PLN ranting, sub ranting dan listrik desa). Dari tujuh lokasi tersebut telah dapat menjangkau sebanyak 111 desa / kelurahan atau 100 % dari 111 desa yang ada di Kabupaten Jeneponto.Konsumen pemakai jaringan listrik tersebut pada tahun 1999 tercatat sebnyak 28.850 pelanggan atau naik sebesar 8,59 % dari pelanggan tahun 1998.


Komoditas & Usaha
Jika diamati dalam perspektif kawasan, maka komoditas pangan yang cukup potensial adalah pada, jagung hibrida dan lokal, kedele, kacang hijau, kacang tanah dan ubi kayu. Dari seluruh komoditas tanaman pangan yang dihasilkandi kawaan Jeneponto dan sekitarnya, nampak bahwa ketujuh komoditas tersebut yang menunjukan volume produksi yang relatif paling tinggi. Namun jika diamati dalam perspektif daerah, maka komoditas yang cukup potensial untuk dikembangkan adalah sektor pertanian khususnya subsektor tanaman pangan, hal ini menyebabkan pemerintah Kabupaten Jeneponto menaruh perhatian besar terhadap pembangunan di sektor pertanian melalui usaha intensifikasi, diversifikasi dan lain-lain yang pada tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan swasembada pangan guna peningkatan taraf hidup masyarakat.
 

Pertanian Tanaman Pangan

 



Sektor pertanian sampai saat ini masih tetap merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat Kabupaten Jeneponto. Subsektor pertanian tanaman pangan di Kabupaten Jeneponto dari tahun 1996 hingga tahun 1999 produksinya secara umum mengalami fluktuasi, dari 7 (tujuh) jenis komoditi tanaman pangan terdapat beberapa komoditi yang mengalami kenaikan produksi adalah padi, ubi jalar, kacang kedele, ubi kayu, jagung dan kacang tanah, sedangkan yang menurun produksinya adlah kacang hijau. Berikut ini akan disajikan perkembangan produksi dari ketujuh komoditi tanaman pangan tersebut.

1. Padi

Produksi padi pada tahun 1996 sebesar 75.480,54 ton dan pada tahun 1997 menurun menjadi 74.193,65 ton dan pada tahun 1998 menurun lagi menjadi 62.536,63 ton atau antara 1997 ke tahun 1998 secara persentase mengalami penurunan sebesar -15,71 persen. Dan pada tahu 1999 produksi pada mengalami kenaikan yang cukup berarti pada tahun 1998 yaitu sebesar 22,43 persen atau sebanyak 14.024,31 ton. Produksi pada dari tahun 1996-1999 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2,99 persen setiap tahunnya.

2. Jagung

Produksi jagung dari tahun 1996-1999 mengalami peningkatan yang mengembirakan hal ini dapat dilihat pada tabel 5.1.3, dimana antara tahun 1996 ke tahun 1997 produksi jagung dalam bentuk pipilan kering meningkat 28,24 persen. Kemudian pada tahun 1999 naik lagi menjadi 26,46 persen. Produksi jagung dari tahun 1996-1999 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 20,32 persen pertahun.

3. Ubi Jalar

Pada tahun 1999 produksi ubi jalar sebesar 6.309,12 ton meningkata sebesar 678,61 persen dibanding tahun 1998. Peningkatan ini relatif besar jika dibandingkan antara tahun 1996 ke 1997 yaitu sebesar 8,93 persen. Bila dilihat dari rata-rata hasil perhektar maka pada tahun 1999 naik sebesar 0,93 kw/ha dibandingkan dengan tahun 1998. antara tahun 1996 ke tahun 1999 secara rata-rata terjadi peningkatan produksi sebesar 1777,20 persen setiap tahunnya.

4. Ubi Kayu


Ubi kayu sebagai salah satu komoditi tanaman pangan yang potensial di daerah ini. Sejak tahun 1996 hingga tahun 1999 produksi ubu kayu mengalami fluktuasi. Namun pada tahun 1999 rata-rata hasil produksi perhektar cukup tinggi yaitu sebesar 217,03 kw/ha. Produksi ubi kayu ini pada tahun 1998 sebesar 138.601,47 ton dan pada tahun 1999 naik menjadi 189.016,32 ton. Secara rata-rata antara tahun 1996 sampai tahun 1999 terjadi penurunan produksi sebesar -0,82 persen setiap tahunnya.

5. Kacang Tanah

Dibanding tahun 1998 maka pada tahun 1999 produksi kacang tanah naik dari 280,85 ton menjadi 463,40 ton dalam bentuk produksi biji kering, secara persentase peningkatannya sebesar 65,00 persen. Produksi kacang tanah dari tahun 1996 sampai dengan tahun 1999 mengalami peningkatan sebesar 3,74 persen setiap tahunnya. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan kacang tanah dapat dilihat pada tabel 5.1.6.

6. Kacang Kedele

Produksi kacang kedele pada tahun 1999 naik sebesar 7,68 persen dibandingkan produksi kacang kedele tahun 1998. Kenaikan produksi ini karena adanya kenaikan luas panen sebesar 7,58 persen. Pada tabel 5.1.7. Menunjukan bahwa selama 4 tahun terakhir ini produksi kedelai secara rata-rata jika dipersentasekan meningkat 7,78 persen setiap tahunnya.

7. Kacang Hijau

Perkembangan produksi kacang hijau dari tahun 1996 sampai tahun 1999 dapat dilihat pada tabel 5.1.8. Yang mana pada tahun 1996 sebesar 1.910,81 ton dalam bentuk biji kering meningkat produksinya pada tahun 1997 menjadi 3.233,26 ton atau naik sebesar 86,56 persen dan tahun 1999 turun menjadi 3.232,19 ton atau turun sebesar -46,42 persen dibandingkan produksi pada tahun 1998. Komoditi ini sebagian besar produksinya berada di Kecamatan Bangkala dan Kecamatan Batang. Produksi kacang hijau meningkat secara rata-rata antara tahun 1996 sampai dengan tahun 1999 sebesar 29,17 persen setiap tahunnya.

Peternakan


Pembangunan subsektor peternakan diarahkan untuk meningkatkan populasi pada produksi ternak untuk memenuhi konsumsi masyarakat akan makanan bergizi, disamping itu juga ditunjukan untuk meningkatkan pendapatan peternak. Populasi ternak di kabupaten Jeneponto pada tahun 1999 dari lima jenis ternak sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba, hanya ternak kerbau yang menurun populasinya. Untuk jenis ternak besar pada tahun 1999 populasi terbanyak adalah kuda sebanyak 14.913 ekor. Sedangkan untuk ternak kecil populasi terbanyak adalah kambing yaitu 55.418 ekor.

Populasi unggas yang terdiri dari ayam ras, ayam buras dan itik antara tahun 1998 sampai tahun 1999 menunjukan bahwa ayam ras dan ayam buras mengalami peningkatan masing-masing 0,19 persen dan 1,15 persen. Demikian pula populasi itik pada tahun 1999 juga mengalami peningkatan sebesar 0,24 persen dibandingkan populasi itik pada tahun 1998

Perkebunan


Beberapa komoditi dari tanaman perkebunana cukup menunjang pendapatan petani di daerah ini antara lain kapas, kelapa dalam , kapok, cengkeh, kemiri, kopi, kakao, jambu mente dan kelapa hibrida. Dari sembilan jenis komoditi tanaman perkebunan maka tanaman kelapa dalam, kapas, kapok, kopi dan jambu mente mempunyai luas arealyang cukup besar masing-masing 4.594 ha, 2.812 ha, 1.321 ha dan 2.795 ha. Khusus untuk tanaman cengkeh, kopi dan kakao hanya perkebunan di Kabupaten Jeneponto secara umum mengalami peningkatan dibandingkan produksi perkebunan tahun 1998, kecuali tanaman kapas yang produksinya mengalami penurunan sebesar -11,47 persen dibandingkan produksi kapok pada tahun 1998.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar